Maret 19, 2009

KEPRIBADIAN

Sumber : Koenjaraningrat (Pengantar Antropologi)

1. Definisi Kepribadian

Pada dasarnya pola kelakuan tiap manusia sebenarnya unik dan berbeda dengan manusia-manusia lainnnya karena suatu kelakuan manusia tidak hanya timbul dan ditentukan oleh sistem organik biologinya saja, melainkan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan jiwanya.
Pola kelakuan berbeda dengan tingkah laku karena ahli antropologi, sosiologi atau psikologi menyatakan bahwa pola kelakuan mempunyai arti suatu kelakuan organisme manusia yang ditentukan oleh naluri, dorongan-dorongan, refleks-refleks atau kelakuan manusia yang tidak lagi dipengaruhi atau ditentukan oleh akal dan jiwanya yaitu kelakuan manusia yang membabi buta. Sedangkan pola tingkah laku adalah unsur-unsur dan akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia itu, yang dapat kita sebut sebagai kepribadian (personality).
Dalam bahasa populer kepribadian juga memiliki arti sebagai suatu ciri-ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus.

2. Unsur-unsur Kepribadian

a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah unsur dalam kepribadian manusia yang mengisi akal dan alam jiwa seseorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung didalam otaknya. Pengetahuan tersebut diterima oleh manusia melalui pengalaman pancaindera seperti cahaya dan warna, suara, berat-ringan, panas-dingin, dsb. Pengalaman yang didapat kemudian dipancarkan atau diproyeksikan oleh individu tersebut menjadi suatu penggambaran tentang lingkungannya. Seluruh proses akal manusia yang sadar itu dalam psikologi dinamakan persepsi.
Persepsi merupakan salah satu unsur yang membentuk pengetahuan selain dari apersepsi, pengamatan, konsep dan fantasi. Apersepsi adalah suatu penggambaran baru dengan lebih banyak pengertian baru tentang keadaan dari lingkungannya. Karena banyaknya penggambaran baru dari lingkungan maka terjadi pemusatan akal yang lebih intensif pada penggambaran tadi akibat adanya ketertarikan yang disebut sebagai pengamatan. Hasil dari pengamatan tersebut kemudian membentuk suatu penggambaran yang lebih baru dan abstrak yaitu konsep.
Manusia juga memiliki suatu kemampuan untuk menggambarkan suatu lingkungan dengan penambahan atau perbesar-besaran bahkan pengurangan hingga sekecil-kecilnya pada bagian-bagian tertentu. Penggambaran tersebut dapat pula digabung-gabungkan hingga menciptakan suatu penggambaran yang baru sama sekali, ini disebut sebagai fantasi. Unsur-unsur pengetahuan inilah yang pada akhirnya membingkai azas-azas kehidupan dan kebudayaan di dalam masyarakat.

b. Perasaan

Perasaan adalah suatu kesadaran dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai keadaan positif dan negatif. Keadaan positif yaitu apersepsi dari kenikmatan yang dirasakan oleh manusia tersebut, sedangkan keadaan negatif yaitu persepsi dari individu yang melihat sesuatu yang buruk atau mendengar suara yang tidak menyenangkan, dan sebagainya sehingga menimbulkan perasaan yang negatif.
Perasaan mengisi penuh alam kesadaran manusia pada tiap saat dalam hidupnya dan selalu bersifat subjektif karena adanya unsur penilaian yang menimbulkan suatu kehendak dalam kesadaran seorang individu. Suatu kehendak dapat menjadi keras bila kehendak tersebut tidak mudah diperoleh atau sebaliknya. Jika kehendak yang telah menjadi keras itu tidak terpenuhi sehingga mengakibatkan rasa penasaran dan menciptakan sesuatu yang disebut keinginan. Bila suatu keinginan tidak tercapai yang sudah terlanjur diinginkan maka bisa membangkitkan nafsu untuk memperolehnya bahkan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.
c. Dorongan Naluri
Dorongan naluri adalah kemauan yang sudah merupakan naluri pada tiap mahluk manusia. Dalam naluri diri manusia secara umum terdapat tujuh macam dorongan naluri, yaitu :
01. Dorongan untuk mempertahankan hidup
Dorongan ini memang merupakan suatu kekuatan biologi yang juga ada pada semua mahluk di dunia ini dan yang menyebabkan bahwa semua jenis mahluk mampu mempertahankan hidupnya dimuka bumi ini.
02. Dorongan sex
Dorongan ini timbul pada tiap individu yang normal tanpa terkena pengaruh pengetahuan dan dorongan ini mempunyai landasan biologi yang mendorong mahluk manusia untuk membentuk keturunan yang melanjutkan jenisnya.
03. Dorongan untuk usaha mencari makan
Dorongan ini diperoleh tanpa dipelajari karena sejak bayi pun manusia sudah menunjukkan dorongan untuk mencari makan, yaitu mencari susu ibunya atau botol susunya, tanpa dipengaruhi oleh pengetahuan tentang adanya hal-hal itu tadi.
04. Dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia
Dorongan ini memang merupakan landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai mahluk kolektif.
05. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya
Dorongan ini merupakan sumber dari adanya beraneka warna kebudayaan di antara mahluk manusia karena adanya dorongan ini manusia mengembangkan adat yang memaksanya berbuat konform dengan manusia sekitarnya.
06. Dorongan untuk berbakti
Dorongan ini mungkin ada dalam naluri manusia karena manusia merupakan mahluk yang hidup kolektif sehingga untuk dapat hidup bersama dengan manusia lain secara serasi ia perlu mempunyai suatu landasan biologi untuk mengembangkan rasa altruistik, rasa simpati, rasa cinta, dan sebagainya yang memungkinkannya hidup bersama itu. Kalau dorongan untuk berbagai hal itu diekstensikan dari sesama manusianya kepada kekuatan-kekuatan yang oleh perasaannya dianggap berada di luar akalnya, maka akan timbul religi.
07. Dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara atau gerak.
Dorongan naluri ini merupakan landasan dari suatu unsur penting dalam kebudayaan manusia, yaitu kesenian. Contohnya, pada seorang bayi dorongan ini sudah sering tampak pada gejala tertariknya seorang bayi kepada bentuk-bentuk tertentu dari benda-benda sekitarnya, kepada warna-warna cerah, kepada suara-suara nyaring dan berirama, dan kepada gerak-gerak yang selaras.

3. Materi dari Unsur-unsur Kepribadian

Didalam kepribadian terdapat sistem atikal seluruh materi yang menjadi objek dan sasaran unsur kepribadian manusia, yaitu :
01. Aneka warna kebutuhan organik diri sendiri, aneka warna kebutuhan serta dorongan psikologi diri sendiri, dan aneka warna kebutuhan serta dorongan organik maupun psikologi sesama manusia yang lain daripada diri sendiri; sedangkan kebutuhan-kebutuhan tadi dapat dipenuhi atau tidak dipenuhi oleh individu yang bersangkutan, sehingga memuaskan dan bernilai positif baginya, atau tidak memuaskan dan bernilai negatif.
02. Aneka warna hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri sendiri atau identitas aku, baik aspek fisik maupun psikologinya dan segala hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu mengenai bermacam-macam kategori manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda, zat, kekuatan dan gejala alam, baik yang nyata maupun yang gaib dalam lingkungan sekelilingnya.
03. Berbagai macam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan atau mempergunakan aneka warna kebutuhan dari hal tersebut diatas sehingga tercapai keadaan memuaskan dalam kesadaran individu yang bersangkutan. Pelaksanaan berbagai macam cara dan jalan tersebut terwujud dalam aktivitas hidup sehari-hari dari seorang individu.

4. Aneka Warna Kepribadian

a. Aneka Warna Kepribadian
Aneka warna stuktur kepribadian pada tiap individu yang satu dengan yang lain adalah berbeda. Ini disebabkan adanya aneka warna materi yang mengisi pengetahuan, perasaan, kehendak serta keinginan dan perbedaan kualitas hubungan antara berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran tiap individu.

b. Kepribadian Umum
Dalam melakukan penelitian kepribadian umum suatu suku bangsa masyarakat dapat menggunakan dua metode, yaitu :
a) Dengan metode pengumpulan data mengenai kepribadian bangsa itu, yaitu dengan mengumpulkan suatu sampel dari individu-individu warga masyarakat yang menjadi objek penelitian. Kemudian tiap-tiap individu dalam sampel itu diteliti kepribadiannya dengan test-test psikologi. Sehingga didapat hasil test ciri-ciri watak sampel tersebut yang secara statistik telah mewakili warga masyarakat itu.
b) Metode penelitian kepribadian umum dengan cara mempelajari adat-istiadat pengasuhan anak yang khas dalam yang ada dalam suatu masyarakat. Karena ciri-ciri dan unsur watak seorang individu dewasa sebenarnya sudah ada tertanam di dalam jiwa seorang individu sejak sangat awal (anak-anak). Hal ini dipengaruhi oleh pengalamannya ketika sebagai anak-anak, ia diasuh oleh orang-orang dalam lingkungannya yaitu seperti pengajaran etika makan, kebersihan, disiplin, bermain dan bergaul, dan sebagainya.
c. Kepribadian Barat dan Kepribadian Timur
Konsep kepribadian barat dan timur merupakan dua konsep kontras yang dahulu mulanya digunakan oleh para sarjana kebudayaan, penyair Eropa, dll. namun konsep tersebut sering bersifat kabur, misalnya mengenai sifat keramah-tamahan dalam kebudayaan timur. Pada umumnya memang menyaratkan sifat ramah tamah, tetapi hanya keramahan lahiriah. Terutama dalam adat sopan santun Jawa, orang tetap harus bersikap ramah walaupun dalam batinnya mungkin membenci seseorang itu. Sebaliknya dalam kebudayaan barat yang dikatakan tidak sama sekali mengenal unsur keramahan. Padahal apabila orang Amerika misalnya bersikap ramah, maka ia sungguh-sungguh ramah secara spontan dan tidak hanya ramah lahiriah saja.

Dalam menanggapi kekolektivisme-individualisme Timur-Barat, seorang sarjana Amerika keturunan Cina yaitu Francis L. K. Hsu dalam bukunya yang berjudul Psychological Homeostasis and Jen yang mengkombinasikan dalam dirinya suatu keahlian dalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu filsafat serta kesusteraan Cina klasik untuk dikaitkan dengan konsep tentang kepribadian Timur-Barat. Hsu menyatakan suatu konsepsi bahwa alam jiwa manusia sebagai mahluk sosial budaya itu mengandung delapan daerah yang berwujud seolah-olah seperti lingkaran konsentrikal sekitar diri pribadinya yang disebut sebagai gambar psiko-sosiogram manusia.

GAMBAR

Pada nomor 7 dan 6 adalah daerah dalam jiwa individu yang oleh para ahli psikologi disebut daerah “tak sadar” dan “subsadar”. Kedua lingkaran itu berada di daerah pedalaman dari alam jiwa individu dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke dalam sehingga tidak disadari lagi oleh individu yang bersangkutan, tetapi di dalam keadaan-keadaan tertentu unsur-unsur itu dapat meledak keluar lagi dan mengganggu kebiasaan hidup sehari-harinya.
Lingkaran nomor 5 yaitu “kesadaran yang tak dinyatakan”. Lingkaran itu terdiri dari pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang disadari penuh oleh individu yang bersangkutan, tetapi disimpan saja olehnya dalam jiwanya sendiri dan tidak dinyatakannya pada siapapun juga dalam lingkungannya. Ini disebabkan oleh kemungkinan bahwa :
i. Ia takut salah dan dimarahi orang apabila ia menyatakannya atau karena ia mempunyai maksud jahat
ii. Ia sungkan menyatakannya atau karena ia belum nyakin bahwa ia akan mendapat respons dan pengertian yang baik dari sesamanya, atau takut walaupun mendapat respons, sebenarnya respons itu tidak diberikan dengan hati yang ikhlas; atau juga karena ia takut ditolak mentah-mentah
iii. Ia malu karena takut ditertawakan atau karena ada perasaan bersalah yang mendalam
iv. Ia tidak dapat menemukan kata-kata atau perumusan yang cocok untuk menyatakan gagasan yang bersangkutan tadi kepada sesamanya
Sedangkan lingkaran nomor 4 disebut sebagai “kesadaran yang dinyatakan”. Lingkaran ini mengandung pikiran-pikiran, gagasan-gagasan perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh individu kepada sesamanya, yang dengan mudah dapat diterima dan dijawab pula oleh sesamanya yaitu berupa simpati, kemarahan, dsb.
Lingkaran nomor 3 berupa “lingkaran hubungan karib” (intimate society) yang mengandung konsepsi tentang orang-orang, binatang atau benda-benda yang oleh individu diajak bergaul secara mesra dan karib, yang bisa dipakai sebagai tempat berlindung dan tempat mencurahkan isi hati apabila sedang terkena tekanan batin atau dikejar-kejar oleh kesedihan serta masalah-masalah hidup yang menyulitkan. Tanpa adanya tokoh-tokoh atau benda-benda kesayangan, tanpa Tuhan, tanpa ide-ide atau ideologi yang dapat menjadi sasaran dari kebaktian mutlak dalam alam jiwanya maka hidup kerohanian manusia itu tidak akan seimbang selaras. Manusia yang tidak mempunyai semuanya itu akan merupakan manusia yang sangat menderita karena ia kehilangan mutu hidup, kehilangan arti untuk hidup dan kehilangan landasan dari rasa keamanan murni dalam hidupnya.
Lingkaran nomor 2 disebut sebagai “lingkungan hubungan berguna” yang tidak lagi ditandai oleh sikap sayang mesra, melainkan ditentukan oleh fungsi dari kegunaan dari orang, binatang atau benda-benda itu bagi dirinya. Contohnya, bagi seorang pedagang, para pembelinyalah yang ada di tempat itu.
Lingkaran nomor satu dapat kita sebut “lingkaran hubungan jauh” yang terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, benda-benda, alat-alat, pengetahuan dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakatnya sendiri tetapi yang jarang sekali mempunyai arti dan pengaruh langsung terhadap kehidupannya sehari-hari.
Daerah nomor 0 disebut sebagai “lingkaran dunia luar” yang terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan tentang orang dan hal yang terletak diluar masyarakat atau negaranya, yang ditanggapi dengan sikap masa bodoh. Contohnya, pandangan seorang tukang kebun di Ambon mengenai orang Eskimo, dsb.
Sedangkan pada daerah lingkaran nomor 4 dibatasi oleh garis yang tebal daripada yang lain. Garis tersebut menggambarkan batas dari alam jiwa individu, yang dalam ilmu psikologi disebut kepribadian (personality).
Selain itu, Hsu juga mengembangkan konsep kepribadian yang lain yaitu Jen yang berguna untuk menganalisa alam jiwa dari manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat Timur. Konsep Jen mengartikan bahwa manusia yang selaras dan berkepribadian adalah manusia yang dapat menjaga keseimbangan hubungan antara diri kepribadiannya dengan lingkungan sekitarnya yang paling dekat dan paling serius, kepada siapa ia dapat mencurahkan rasa cinta, kemesraan dan baktinya. Konsep Jen ini dalam gambar psiko-sosiogram manusia digambarkan sebagai garis-garis arsir pada nomor 4, 3 dan sedikit memasuki lingkaran 5 dan 2. Daerah ini dalam ilmu psikologi disebut psychological homeostasis. Dari keterangan psikologi Hsu inilah kita dapat mengetahui perbedaan alam jiwa manusia sebagai mahluk sosial budaya dalam kepribadian Barat dan kepribadian Timur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar